Postingan

Semoga Sampai

       Apakah kalian tau hal yang paling sulit ketika aku menulis ini? Ya, aku sangat kesulitan harus berkata apa, atau dengan kalimat apa aku menjabarkanya pada kalimat pembuka yang singkat. Karna tulisan ini tentang dia; wanita tangguh yang baru saja berhasil menduduki posisi ke-dua setelah bundaku.           Wanita tangguh itu sosok kaka dari kedua adiknya, harapan pertama bagi kedua orang tuanya. Kakinya harus kuat, bahunya pun harus kekar, bahkan hatinya selalu dipaksa untuk tegar. Dia seorang perawat di salah satu rumah sakit terkenal di kota kami. Kalian bayangkan saja betapa hebatnya wanita itu.           Pertemuanku degannya cukup konyol, lewat salah satu  platform social media.  Konyolnya aku diberi  username  miliknya oleh mantan kekasihku dan yang lebih konyolnya lagi, mantan kekasihku itu cemburu bahkan marah saat tau aku memiliki kedekatan denganya. Seringkali kami menertawa...
CINTA DAN LUKA(S) Sebelum membaca tulisanku alangkah baiknya kalian baca Pov dari cinta  di sini ___________________________ Lukas Barry Abraham PoV Perkenalkan, aku Lukas, bukan luka.  Mungkin kalian sudah tau namaku dari dua cerita yang ditulis oleh kedua sahabatku, Cinta dan Yoga. Pengalaman menulisku hanya sebatas mengerjakan tugas dari guru bahasaku, Bu Lely, tugas mengarang cerita kegiatan apa saja yang dilakukan bersama keluarga saat liburah akhir semester, itu pun dibantu Cinta dan Yoga. Jadi kuharap kalian memakluminya jika tulisan ini tidak sebagus kedua sahabatku. Seperti yang dikatakan yoga, persahabatan ini terjalin sedari kita duduk di bangku SMA-hingga saat ini. Namun entah apa yang terjadi nanti, ketika mereka membaca tulisan ini, tulisan amatir dari si Lukas yang kalian sebut luka. Aku memang tidak se-asik Yoga, atau bahkan se-hangat Cinta.  Sedikit kuceritakan tentang aku; aku manusia yang sangat benci keramaian, jika kalian bertanya bagaimanaaku di kela...

Selamat datang, aku.

Ini tulisan ketigaku tentang kamu, mungkin juga ini yang terakhir. Ini akan sedikit kasar atau penuh dengan emosional. Sebelumnya aku koreksi dulu, kata 'mungkin' pada kalimat pertama itu bersifat mutlak, tidak akan ada kemungkinan aku menulis tetangmu lagi.  "Aku pasti kembali. Tunggu saja," terdengar menyenangkan ketika mendengar sebuah janji yang terucap, namun kenyataannya sangat menjijikan. Bodohnya, aku percaya dan menyiapkan sambutan terbaik untuk kepulanganmu. Maaf, diri. Telah memaksamu untuk menerima kenyataan yang pahit (lagi).Tapi tak apa, terima kasih telah membuktikan atas semua kepalsuan yang keluar dari mulut manismu.  Namun tetap tak bisa dipungkiri. Denganmu, duniaku menjadi sangat menyenangkan. Denganmu, aku bisa menjadi aku yang sebenar-benarnya. "mimpi yang telah kita capai kini hanya sebatas memori" "terima kasih." Tugasku sudah selesai, senyum manismu sudah bukan lagi untukku. Do'aku sudah terkabul, kau sudah menemukan ja...

366 Km / 24 Jam

Kau ingat, perjalanan yang cukup melelahkan kala itu? ya, perjalanan yang sudah kita rencanakan selama 14 hari. Kala itu, aku tidak terlalu banyak bicara,  hanya melihat dan memerhatikanmu yang terlihat sangat senang saat merencanakan tujuan mana saja yang akan kita tuju. Pada saat hari yang kita tunggu-tunggu itu tiba, entah mengapa alam sangat mendukung. Cuaca cerah, tidak panas dan tidak dingin, padahal hujan sedang senang-senangnya  turun. Beruntung, terimakasih, Tuhan. Terimakasih telah memberi kesempatan itu, kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali.  Cukup menyenangkan ketika mengingat hal itu, bukan? Wajah lucu dan mata yang berbinar terpancar sangat jelas. Kala itu, aku jatuh hati kesekian kalinya di waktu yang berbeda, di tempat yang berbeda, namun tetap pada orang yang sama. Bisakah ku ulang sekali  lagi? Sekali saja, untuk terakhir kalinya.  Banyak yang bilang menaruh harap pada seseorang itu sama saja dengan menunda patah hati, mungkin mem...

AGAR TETAP HIDUP

Perihal kepergianmu itu mungkin sebagian besar karna kesalahanku, mungkin. Entah apa yang sebenarnya terjadi, hanya kamu dan hatimu yang tau. Biarkan saja tetap seperti ini, aku dengan kesalahanku dan kamu dengan alasan alasan yang tidak ku ketahui. Perihal kesalahanku apakah tidak bisa kau beri tau? mungkin bisa ku perbaiki tanpa harus kau pergi. Atau ada hal lain yang membuat kau pergi?  Tidak bisakah kita musyawarahkan? Jika memang benar ini salahku, jika tidak yasudah. Mungkin karna hal lain atau mungkin ada hati yang lain.  Jika memang kau ingin pergi, pergilah. Tak usah ragu, tak usah berdalih karna  kesalahanku. Tak apa, aku bisa mencari bahagiaku sendiri. Aku tidak akan menahanmu atau bahkan memaksamu untuk kembali padaku, seperti yang selalu aku katakan padamu 'tetaplah ikuti keinginanmu'.  Semenjak kepergianmu, rumah yang kubangun sedemikian rupa hanya untuk membuatmu nyaman berada didalamnya, kini hancur seperti  gudang perabotan . Tapi tak apa, akan ...