Semoga Sampai
Apakah kalian tau hal yang paling sulit ketika aku menulis ini? Ya, aku sangat kesulitan harus berkata apa, atau dengan kalimat apa aku menjabarkanya pada kalimat pembuka yang singkat. Karna tulisan ini tentang dia; wanita tangguh yang baru saja berhasil menduduki posisi ke-dua setelah bundaku.
Wanita tangguh itu sosok kaka dari kedua adiknya, harapan pertama bagi kedua orang tuanya. Kakinya harus kuat, bahunya pun harus kekar, bahkan hatinya selalu dipaksa untuk tegar. Dia seorang perawat di salah satu rumah sakit terkenal di kota kami. Kalian bayangkan saja betapa hebatnya wanita itu.
Pertemuanku degannya cukup konyol, lewat salah satu platform social media. Konyolnya aku diberi username miliknya oleh mantan kekasihku dan yang lebih konyolnya lagi, mantan kekasihku itu cemburu bahkan marah saat tau aku memiliki kedekatan denganya. Seringkali kami menertawakan masalah itu, walaupun akhirnya ia cemberut jika aku mengejeknya berlebihan, haha. Di balik ketangguhannya itu, ia juga memiliki tingkat kegemas-an yang berlebihan.
Ada rasa kecewa yang aku rasakan, ketika ia bilang bahwa ia tidak ingin memilik hubungan apapun dengan pria lain diluar pernikahan. Salut, dia berani mengorbankan perasaannya demi mempertahankan janjinya pada diri sendiri. Aku yakin kita memiliki perasaan yang sama. Karna itu, terbesit dalam benakku untuk segera meminangnya. Jangan tanyakan padaku kenapa aku bisa begitu cepat menaruh hati padanya, bagaimana mungkin aku bisa menyia-nyiakan wanita sehebat dia. Wanita tangguh yang menyimpan banyak rahasia di balik senyumnya. Sial, aku tidak bisa menyelami hatinya lebih dalam.
Seringkali ia merasa kesal dengan sikapku, namun ia memilih untuk memendamnya sendiri. Sebenarnya aku tahu apa yang membuanya kesal, tapi aku memilih pura pura tidak tahu. Itu pun bukan karna tanpa alasan, aku tidak ingin salah langkah untuk mengambil tindakan pada hubungan tanpa ikatan ini. Karna akupun sama halnya dengan dia; memiliki sebuah janji pada diri sendiri untuk tetap menjadi diri sendiri dalam kondisi apapun. Karna bagaimanapun, semenyebalkannya aku, aku tetap orang yang selalu menginginkannya.
Sebenarnya aku tidak ingin mengakhiri tulisan ini, namun apa daya. Ia memilih untuk mengakhiri hubungan tanpa ikatan ini, Ia sudah tidak lagi nyaman dengan sikapku yang selalu menyebalkan baginya. Tolong untuk tidak menyuruhku menahannya pergi. Karna bagaimanapun, ia memiliki kendali penuh atas kehidupannya.
Jika diantara kalian ada yang mengenali wanita tangguh yang kumaksud, tolong sampaikan padanya; terima kasih sudah hadir, terima kasih sudah mengisi bagian yang belum pernah ter-isi oleh siapapun.
Dari aku yang belum sempat atau bahkan tidak akan pernah sempat memilikimu.
Komentar
Posting Komentar